Para
ulama’ yang bermazhab Syafi'i, mulai dari pengasasnya yaitu Al-Imam
Asy-Syafi'i hingga para ulama' Syafi'i abad ini, supaya kita dapat
mengenali para ulama' yang bermazhab Syafi'i dan jangan lagi ada orang
memandang remeh dan rendah terhadap Mazhab Syafi'i.
Kurun Ke-Tiga Hijriyah
- Al-Imam Asy-Syafi'i (Wafat 204H)
Nama
asli dari al-Imam Syafi’I adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin
Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin
al-Muththalib bin Abdi Manaf. Gelar beliau adalah Abu Abdillah.
Orang
arab biasanya jika menulis nama mendahulukan gelar daripada nama,
sehingga disebut Abu Abdillah Muhammad bin Idris. Belai lahir di Gaza,
bagian selatan Palestina, pada tahun 150 Hijiriyah, pertengahan abad
kedua hijriyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa beliau lahir di
Asqalan, tatapi kedua perkataan itu tidaklah berbeda karena Gaza
dahulunya adalah daerah Asqalan. Kampung halaman Imam Syafi’I bukan di
Gaza (Palestina) tapi di Mekkah (Hijaz). Kedua orang tua beliau datang
ke Gaza untuk sebuah keperluan dan tidak lama beliau lahir di situ.
Suatu ketika ayah Imam Syafi’I wafat di Gaza dan beliau menjadi yatim, diasuh oleh Ibunya. Sejarah telah mencatat ada 2 peristiwa penting sekitar kelahiran Imam Syafi’I rahimahullah ;
1. Sewaktu Imam Syafi’I masih dalam kandungan, ibunya bermimpi bahwa sebuah bintang telah keluar dari perutnya dan terus naik membubung tinggi, kemudian bintang itu berhamburan dan berserak menerangi daerah-daerah disekelilingnya. Ahli mimpi memaknai mimpi itu bahwa ia akan melahirkan seorang putra yang ilmunya meliputi seluruh jagat.
1. Sewaktu Imam Syafi’I masih dalam kandungan, ibunya bermimpi bahwa sebuah bintang telah keluar dari perutnya dan terus naik membubung tinggi, kemudian bintang itu berhamburan dan berserak menerangi daerah-daerah disekelilingnya. Ahli mimpi memaknai mimpi itu bahwa ia akan melahirkan seorang putra yang ilmunya meliputi seluruh jagat.
Sekarang
telah menjadi kenyataan bahwa ilmu Imam Syafi’i memang memenuhi dunia,
bukan saja di tanah Arab, timur tengah dan Afrikan, tetapi juga sampai
kearah timur jauh, ke Indonesia, Malaysia, Thailand, Piliphina dan
lainnya.
2.
Sepanjang sejarah pada hari dimana Imam Syafi’I dilahirkan, meninggal
dua orang Ulama Besar, seorang di Baghdad (Irak) yaitu al-Imam Abu
Hanifah Nu’man bin Tsabit (Pengasas Madzhab Hanafi) dan seorang Ulama
lagi di Mekkah yaitu al-Imam Ibnu Jurej al-Makky, Mufti Hijaz disaat
itu.
Seorang
ahli firasat berkata, ini merupakan pertanda bahwa anak yang lahir ini
akan menggantikan yang meninggal dalam “ilmu dan kecerdasan”nya. Memang
firasat ini akhirnya terbukti dalam kenyataan.
Nasab
Imam Syafi’I adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’
bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin
Abdi Manaf bin Qushay. Abdul Manaf bin Qusyai yang menjadi kakek ke-9
Imam Syafi’I adalah Abdul Manaf bin Qushai yang juga menjadi kakek ke-4
Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana
telah diketahui, bahwa silsilah Nabi Muhammad adalah Muhammad bin
Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusyai bin
Kilab bin Marah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin
Nadhar bin Kinanah bin Quzaiman bin Mudrikah bin Ilyas, bin Ma’ad bin
Adnan sampai kepada Nabi Ismail as dan Nabi Ibrahim as.
Maka jelaslah bahwa silsilah Imam Syafi’i bertemu dengan silsilah Nabi Muhammad SAW.Adapun
dari pihak Ibu, Fatimah binti Abdmullah bin Hasan bin Husain bin Ali
bin Abi Thalib. Ibu Imam Syafi’i adalah cucu dari cucu Sayyidina Ali bin
Abi Thalib, menantu, sahabat Nabi dan Khalifah ke-4 yang terkenal.
Sepanjang sejarah telah ditemukan bahwa Said bin Abu Yazid, kakek Imam
Syafi’I ke-5 adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Jadi baik dilihat baik
dari segi nasab maupun dari segi keturunan ilmu, maka Imam Syafi’i
Rahimahullah adalah kerabat Nabi Muhammad SAW.
Gelar “asy-Syafi’I” dari Imam Syafi’I rahimahullah diambil dari kakek ke-4 beliau yaitu Syafi’I bin Saib.
Gelar “asy-Syafi’I” dari Imam Syafi’I rahimahullah diambil dari kakek ke-4 beliau yaitu Syafi’I bin Saib.
- Al-Imam Al-Humaidi (wafat 219H)
Nama
lengkap beliau adalah ‘Abdullah bin Zuber bin ‘Isa, Abu Bakar
Al-Humaidi. Beliau adalah juga murid langsung dari Imam Syafi’i.
Beliaulah yang membawa dan mengembangkan Mazhab Syafi’I ketika di
Makkah, sehingga beliau diangkat menjadi Mufti Makkah.
Inilah
di antara 11 orang murid-murid langsung dari Imam Syafi’i yang kemudian
menjadi Ulama’ Besar dan tetap teguh memegang Mazhab Syafi’i. Maka
dengan perantaraan beliau-beliau inilah Mazhab Syafi’i tersiar luas ke
pelusuk-pelusuk dunia Islam terutama ke bahagian Timur dari Hijaz, iaitu
Iraq, ke Khurasan, ke Maawara An-Nahr, ke Azerbaiyan, ke Tabristan,
juga ke Sind, ke Afghanistan, ke India, ke Yaman dan terus ke
Hadhramaut, ke Pakistan, India dan Indonesia.
Beliau-beliau ini menyiarkan Mazhab Syafi’i dengan lisan dan tulisan. Selain dari itu ada dua orang murid Imam Syafi’i yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241H) yang kemudian ternyata membentuk satu aliran dalam fiqih yang bernama Mazhab Hanbali. Yang kedua Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Hakam , seorang Ulama’ murid langsung dari Imam Syafi’i yang ilmunya tidak kalah dari Al-Buwaiti. Beliau ini pada akhir umurnya berpindah ke Mazhab Maliki dan wafat dalam tahun 268H. di Mesir.
Beliau-beliau ini menyiarkan Mazhab Syafi’i dengan lisan dan tulisan. Selain dari itu ada dua orang murid Imam Syafi’i yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241H) yang kemudian ternyata membentuk satu aliran dalam fiqih yang bernama Mazhab Hanbali. Yang kedua Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Hakam , seorang Ulama’ murid langsung dari Imam Syafi’i yang ilmunya tidak kalah dari Al-Buwaiti. Beliau ini pada akhir umurnya berpindah ke Mazhab Maliki dan wafat dalam tahun 268H. di Mesir.
Ulama’-ulama’,
murid yang langsung dari Imam Syafi’i ini boleh dinamakan Ulama’-ulama’
Syafi’iyah, iaitu Ulama’-ulama’ Syafi’iyah tingkatan pertama. Ada
tingkatan kedua, iaitu Ulama’- ulama’ Syafi’iyah yang wafat dalam abad
ketiga juga, tetapi tidak belajar kepada Imam Syafi’i sendiri, melainkan
kepada murid-murid Imam Syafi’i . Ulama’-ulama’ itu adalah : Ahmad bin
Syayyar Al-Marwazi, Imam Abu Ja’far At-Tirmizi, Abu Hatim Ar-Razi, Imam
Bukhari, Al-Junaid Baghdad, Ad-Darimi, Imam Abu Daud dan lain-lain.
Sebelas
murid-murid langsung dari Imam Syafi'i adalah Imam Ar-Rabi’ bin
Sulaiman Al-Muradi, Al-Buwaiti, Al-Muzani, Harmalah At-Tujibi,
Az-Za’farani, Al-Karabisi, At-Tujibi, Muhammad bin Syafi’i, Ishaq bin
Rahuyah dan Al-Humaidi Wafat di Makkah pada tahun 219H
- Al-Imam Al-Buwaiti (wafat 231H)
Nama
Lengkap beliau adalah Abu Ya’kub bin Yusuf bin Yahya al-Buwaiti, lahir
di desa Buwaiti (Mesir) wafat 231 Hijriyah. Beliau adalah murid langsung
dari Imam Syafi’I rahimahullah, sederat dengan ar-Rabi’i bin Sulaiman
al-Muradi.
Imam
Syafi’I berkata ; “Tidak seorangpun yang lebih berhak ata kedudukanku
melebihi dari Yusuf bin Yahya al-Buwaiti “ dan Imam Syafi’I berwasiat
jika beliau wafat maka yang akan menggantikan kedudukan beliau mengajar
adalah al-Imam Buwaiti ini.
Beliau
menggantikan Imam Syafi’I berpuluhan tahun dan pada akhir umur hidup
beliau ditangkap kerena persoalan “fitnah Qur’an” yaitu tentang apakah
al-Qur’an itu makhluk atau tidak, yang digerakkan oleh kaum Muktazilah.
Akhirnya al-Imam Buwaiti ditangkap oleh Khalifah yang pro terhadap paham
Muktazilah, lalu dibawa dengan ikatan rantai ditubuhnya ke Baghdad.
Beliau wafat dipenjara pada tahun 231 Hijriyah. Beliau syahid karena
mempertahankan kepercayaan dan i’tiqad beliau yaitu I’tiqad kaum Ahlus
Sunnah wal Jamaah yang mempercayai bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullah
yang Qadim, bukan “ciptaan Allah” (Makhluk).
- Al-Imam Ishaq bin Rahuyah (wafat 238H)
- Al-Imam Ishaq bin Rahuyah (wafat 238H)
Nama
lengkap beliau adalah Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim yang
terkenal dengan nama Ibnu Rahuyah. Lahir tahun 166 H. wafat tahun 238H.
Beliau belajar fiqih kepada Imam Syafi’i yang terkenal. Bukan
saja dalam ilmu fiqih tetapi juga dalam ilmu Hadits. Imam bBukhari,
Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad bin Hanbal, banyak mengambil hadits
kepada Ishaq bin Rahuyah ini. Imam Nasa’i mengatakan bahawa Ibnu Rahuyah
adalah “Tsiqqah”, yaitu “dipercayai”.
- Al-Imam Muhammad bin Syafi'i (wafat 240H)
Muhammad bin Syafi’i, gelar Abu Utsman Al-Qadi. Beliau
adalah anak yang tertua dari Imam Syafi’i. Pada akhir usia beliau,
menjabat kedudukan Qadi di Jazirah dan wafat di situ tahun 240H.
- Al-Imam Al-Karabisi (wafat 245H)
Nama
lengkap beliau adalah Imam Abu ‘Ali, Husein bin ‘Ali Al-Karabisi.
Beliau juga seorang murid langsung dari Imam Syafi’i sesudah terlebih
dahulu menganut ajaran Imam Abu Hanifah (Hanafi) dan kemudian masuk
dalam Mazhab Syafi’i, beliau adalah menjadi tiang tengah dalam
menegakkan fatwa dan aliran-aliran Imam Syafi’i.
- Al-Imam At-Tujibi (wafat 250H)
- Al-Imam At-Tujibi (wafat 250H)
Ahmad
bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman At-Tujibi. Beliau adalah seorang
Ulama’ yang belajar langsung dalam ilmu bfiqih kepada Imam Syafi’i.
Meninggal dan bermaqam di Mesir.
- Al-Imam Al-Muzani (wafat 264H)
- Al-Imam Al-Muzani (wafat 264H)
Mengenai Imam Al-Muzanni,
- Al-Imam Harmalah At-Tujibi (wafat 243 H)
Nama
lengkapnya Harmalah bin Yahya Abdullah At-Tujibi, murid Imam Syafi’I
Rahimahullah. Beliau adalah ulama besar penegak madzhab Syafi’i yang
menyusun kitab-kitab Imam Syafi’i. Didalam madzhab Syafi’I terkenal
kitab Harmalah yaitu kitab karangan Imam Syafi’I rahimahullah yang
disusun oleh murid beliau yaitu Harmalah bin Yahya.
Selain ahli Fiqh Syafiyyah yang terkenal, beliau juga juga ahli Hadits yang menghafal hadits-hadits Nabi. Khabarnya
beliau telah menghafal 10.000 hadits Nabi. Diantara ahli hadits yang
menjadi murid dari Harmalah, diantaranya adalah Imam Muslim, Imam Ibnu
Qutaibah, Imam Hasan bin Sofyan dan lain-lain.
- Al-Imam Bukhari (wafat 256H)
Nama
lengkap beliau Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughitah bin
Bardizbah Al-Jufri Al-Bukhari. Lahir tahun 194H. di Bukhara Asia Tengah.
Sejak kecil beliau sudah menghafal Al-Qur’an di luar kepala dan sangat
menyukai mencari dan mendengar Hadits-hadits Nabi. Kemudian selama 16
tahun beliau menyusun dan mengarang kitab sohihnya yang berjudul kitab
“Sohih Al-Bukhari”.
Beliau
selalu mengedar ke daerah-daerah dan kota-kota negeri Islam ketika itu.
Beliau belajar Hadits di negerinya dan kemudian pergi ke Balkha, ke
Marwa, ke Nisabur, ke Rai, ke Basrah, ke Kufah, ke Makkah, ke Madinah,
ke Mesir, ke Damaskus, ke Asqalan dan lain-lain.
Perjalanan beliau ini adalah dalam rangka mencari ulama’-ulama’ yang menyimpan hadits dalam dadanya untuk dituliskannya di dalam kitab yang ketika itu sangat kurang sekali. Kitab Sohih Bukhari itu adalah kitab agama Islam yang kedua sesudah Al-Qur’an. Hadits-hadits di dalamnya menjadi sumber hukum yang kuat dalam fiqih (hukum) Islam. Pada mulanya beliau sampai menghafal hadits sebanyak 600,000 hadits yang diambilnya dari 1,080 orang guru, tetapi kemudian setelah disaring dan disaringnya lagi, maka yang dituliskannya dalam kitab Sohih Bukhari hanya 7,275 hadits. Kalau disatukan hadits yang berulang-ulang disebutnya dalam kitab itu, jadinya berjumlah 4,000 hadits yang kesemuanya hadits sohih dan diterima oleh seluruh dunia Islam, terkecuali oleh orang yang buta mata hatinya.
Perjalanan beliau ini adalah dalam rangka mencari ulama’-ulama’ yang menyimpan hadits dalam dadanya untuk dituliskannya di dalam kitab yang ketika itu sangat kurang sekali. Kitab Sohih Bukhari itu adalah kitab agama Islam yang kedua sesudah Al-Qur’an. Hadits-hadits di dalamnya menjadi sumber hukum yang kuat dalam fiqih (hukum) Islam. Pada mulanya beliau sampai menghafal hadits sebanyak 600,000 hadits yang diambilnya dari 1,080 orang guru, tetapi kemudian setelah disaring dan disaringnya lagi, maka yang dituliskannya dalam kitab Sohih Bukhari hanya 7,275 hadits. Kalau disatukan hadits yang berulang-ulang disebutnya dalam kitab itu, jadinya berjumlah 4,000 hadits yang kesemuanya hadits sohih dan diterima oleh seluruh dunia Islam, terkecuali oleh orang yang buta mata hatinya.
Di
antara guru beliau dalam fiqih Syafi’i adalah Imam Al-Humaidi, sahabat
Imam Syafi’i yang belajar fiqih daripada Imam Syafi’i ketika berada di
Makkah Mukarramah.
Juga
beliau belajar fiqih dan Hadits daripada Za’farani, Abu Thur dan
Al-Karabisi, ketiganya adalah murid Imam Syafi’i. Demikianlah
diterangkan oleh Imam Abu ‘Asim Al-Abbadi dalamkitab “Tobaqat”nya.
Beliau tidak banyak membicarakan soal fiqih, tetapi hampir semua
pekerjaan beliau berkisar kepada hadits-hadits saja yang tidak mengambil
hukum dari hadits-hadits itu. Ini suatu bukti bahawa beliau bukan Imam
Mujtahid, tetapi ahli hadits yang di dalam furu’ Syari’at beliau
menganut Mazhab Syafi’i.
Di
dalam kitab "Faidhu Qadir" syarah Jamius Saghir pada juzu’ I halaman 24
diterangkan bahawa Imam Bukhari mengambil fiqih daripada Al-Humaidi dan
sahabat Imam Syafi’i yang lain. Imam
Bukhari tidak mengambil hadits daripada Imam Syafi’i kerana beliau
meninggal dalam usia muda, tetapi Imam Bukhari belajar dan mengambil
hadits daripada murid-murid Imam Syafi’i.
Tetapi sesungguhnya begitu, di dalam kitab Sohih Bukhari ada dua kali Imam Syafi’i disebut, iaitu pada bab Rikaz yang lima dalam kitab Zakat dan pada bab Tafsir ‘Araya dalam kitab Buyu’.(Lihat Fathul Bari juzu’ IV, halaman 106 dan pada juzu’ V halaman 295)
Tetapi sesungguhnya begitu, di dalam kitab Sohih Bukhari ada dua kali Imam Syafi’i disebut, iaitu pada bab Rikaz yang lima dalam kitab Zakat dan pada bab Tafsir ‘Araya dalam kitab Buyu’.(Lihat Fathul Bari juzu’ IV, halaman 106 dan pada juzu’ V halaman 295)
- Al-Imam Az-Za'farani (wafat 260H)
Nama lengkap beliau adalah al-Imam Hasan bin Muhammad as-Sabah az-Za’farani. Lahir
didusun az-Za’farani dan pindah ke kota Baghdad, disana beliau belajar
kepada al-Imam Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam az-Za’farani adalah murid
langsung dari Imam Syafi’i.
Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang terkenal banyak mengambil hadits dari al-Imam Za’farani namun beliau tidak menjadi mujtahid Fiqh. Beliau tetap memegang madzhab Imam Syafi’i. Dari beliau ini mengalir madzhab Imam Syafi’I kepada Imam Bukhari sehingga beliau menganut madzhab imam Syafi’I dalam syariat dan Ibadah.
Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang terkenal banyak mengambil hadits dari al-Imam Za’farani namun beliau tidak menjadi mujtahid Fiqh. Beliau tetap memegang madzhab Imam Syafi’i. Dari beliau ini mengalir madzhab Imam Syafi’I kepada Imam Bukhari sehingga beliau menganut madzhab imam Syafi’I dalam syariat dan Ibadah.
- Al-Imam Muslim (wafat 261H)
Beliau adalah Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, yang lebih dikenal dengan Imam Muslim.Dilahirkan
pada tahun 204 Hijriah dan meninggal dunia pada sore hari Ahad bulan
Rajab tahun 261 Hijriah dan dikuburkan di Naisaburi.
Beliau juga sudah belajar hadits sejak kecil seperti Imam Bukhari dan pernah mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama lain selain mereka. Orang yang menerima Hadits dari beliau ini, termasuk tokoh-tokoh ulama pada masanya. Ia juga telah menyusun beberapa karangan yang bermutu dan bermanfaat.Yang paling bermanfaat adalah kitab Shahihnya yang dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Kedua kitab hadits shahih ini; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasa disebut dengan Ash Shahihain. Kadua tokoh hadits ini biasa disebut Asy Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua yang maksudnya dua tokoh ulama ahli Hadits. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya.
Beliau juga sudah belajar hadits sejak kecil seperti Imam Bukhari dan pernah mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama lain selain mereka. Orang yang menerima Hadits dari beliau ini, termasuk tokoh-tokoh ulama pada masanya. Ia juga telah menyusun beberapa karangan yang bermutu dan bermanfaat.Yang paling bermanfaat adalah kitab Shahihnya yang dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Kedua kitab hadits shahih ini; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasa disebut dengan Ash Shahihain. Kadua tokoh hadits ini biasa disebut Asy Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua yang maksudnya dua tokoh ulama ahli Hadits. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya.
Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya
1. Al-Jami` ash-Shahih atau lebih dikenal sebagai Sahih Musli
2. Al-Musnad al-Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits)
3. Kitab al-Asma wal-Kuna
4. Kitab al-Ilal
5. Kitab al-Aqran
6. Kitab Su`alatihi Ahmad bin Hambal
7. Kitab al-Intifa` bi Uhubis-Siba`
8. Kitab al-Muhadramin
9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahid
10. Kitab Auladish-Shahabah
11. Kitab Auhamil-Muhadditsin
- Al-Imam Ahmad bin Syayyar Al-Marwazi (wafat 268H)
Nama
lengkap beliau adalah Ahmad bin Syayyar bin Ayub Abu Hasan Al-Marwazi.
Beliau adalah murid dari Ishaq bin Rahuyah dan Ulama’- ulama’ Syafi’i
yang lain, ulama’-ulama’ seperti Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Imam Bukhari
dan lain-lain, mengambil ilmu kepada beliau. Syeikh Ahmad bin Syayyar
yang membawa dan memajukan Mazhab Syafi’i ke Marwin, ke Ghazanah di
India, ke Afghanistan dan lain-lain. Beliau adalah pengarang kitab
“Tarikh Marwin”.
- Al-Imam Ar-Rabi' ibn Sulaiman Al-Muradi (wafat 270H)
Beliau
adalah murid langsung dari Imam Syafi’i Rahimahullah, dibawa dari
Baghdad sampai ke Mesir. Lahir tahun 174 Hijriyah dan wafat pada tahun
270 Hijriyah. Beliau inilah yang membantu Imam Syafi’I menulis kitabnya
al-Umm dan kitab ushul Fiqh pertama didunia yaitu kitab ar-Risalah
al-Jadidah.
Berkata
Muhammad bin Hamdan, “saya datang ke kediaman Rabi’I pada suatu hari,
dimana didapati didepan rumahnya 700 kendaraan membawa orang yang datang
mempelajari kitab Syafi’i dari beliau”.
Ini
merupakan bukti bahwa al-Imam ar-Rabi’I ibnu Sulaiman al-Muradi adalah
seorang yang utama, penyiar dan penyebar madzhab Syafi’i dalam abad-abad
yang pertama. Disebutkan dalam kitab al-Majmu’ halaman 70, kalau ada
perkataan “sahabat kitab ar-Rabi’i" maka maksudnya ar-Rabi’i Sulaiman
al-Muradi. Didalam kitab al-Muhzab, tidak ada ar-Rabi’I selain ar-Rabi’I
ini, kecuali ar-Rabi’I dalam masalah menyamak kulit yang bukan
ar-Rabi’I ini melainkan ar-Rabi’I bin Sulaiman al-Jizi. (Beliau juga
adalah sahabat Imam Syafi’i).
- Al-Imam Ibnu Majah (wafat 275H)
Nama beliau adalah Abu
Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini . Ia
dilahirkan pada tahun 207 Hijriah dan meninggal pada hari selasa,
delapan hari sebelum berakhirnya bulan Ramadhan tahun 275. Ia menuntut
ilmu hadits dari berbagai negara hingga beliau mendengar hadits dari
madzhab Maliki dan Al Laits. Sebaliknya banyak ulama yang menerima
hadits dari beliau. Ibnu Majah menyusun kitab Sunan Ibnu Majah dan kitab
ini sebelumnya tidak mempunyai tingkatan atau tidak termasuk dalam
kelompok kutubus sittah (lihat di bagian hadits) karena dalam kitabnya
ini terdapat hadits yang dlaif bahkan hadits munkar. Oleh karena itu
para ulama memasukkan kitab Al Muwaththa karya Imam Malik dalam kelompok
perawi yang lima (Al Khamsah). Menurut penyusun (Ibnu Hajar) ulama yang
pertama kali mengelompokkan atau memasukkan Ibnu Majah kedalam kelompok
Al Khamsah itu adalah Abul Fadl bin Thahir dalam kitabnya Al Athraf,
kemudian Abdul Ghani dal kitabnya Asmaur Rijal
- Al-Imam Abu Daud (wafat 276H)
- Al-Imam Abu Daud (wafat 276H)
Nama lengkap beliau adalah Sulaimam bin Asy’ats bin Ishak As-Sijistani , yang kemudian terkenal dengan Imam Abu Daud saja.Beliau
berasal dari Sijistan sebuah desa di India, lahir pada tahun 202H.
Seorang ulama’ ilmu hadits yang terkenal, yang kitabnya “Sunan Abu Daud”
termasuk kitab hadits yang enam, iaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud,
Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmizi. Selain dari itu beliau adalah ahli fiqih
Syafi’i, yang dipelajarinya dari Ishaq Ibnu Rahuyah dan lain-lain
ulama’ Syafi’iyah.
- Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi (wafat 277H)
Nama
lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin Munzir bin Daud bin
Mihran. Abu Hatim Ar-Razi , lahir tahun 195H. beliau adalah seorang
Ulama’ Syafi’iyah yang besar, yang mengatakan bahawa beliau telah
berjalan kaki mencari hadits pada tingkat pertama sepanjang 1,000
farsakh. Beliau berjalan kaki dari Bahrin ke Mesir, ke Ramlah di
Palestina, ke Damaskus, ke Intakiah, ke Tarsus, kemudian kembali ke Iraq
dalam usia 20 tahun. Di antara guru beliau dalam fiqih ialah Yunus bin
‘Abdul A’ala , iaitu sahabat-sahabat Imam Syafi’iyah
- Al-Imam Ad-Darimi (wafat 280H)
Nama
lengkap beliau adalah ‘Utsman bin Sa’id bin Khalid bin Sa’id
As-Sijistani Al-Hafiz Abu Sa’ad Ad-Darimi. Beliau seorang ahli hadits
yang terkenal dan juga ahli fiqih Syafi’i. Beliau belajar fiqih daripada
sahabat-sahabat Imam Syafi’i yaitu Al-Buwaiti dan juga daripada Ishak
bin Rahuyah. Beliau mengarang kitab hadits besar bernama “Musnad Darimi”
dan juga mengarang kitab untuk menolak Bisyir Al-Marisi, Imam
Mu’tazilah.
- Imam Abu Ja'far At-Tirmizi (wafat 295H)
Nama
lengkap beliau ini adalah Muhammad bin Ahmad bin Nasar, Abu Ja’far
At-Tirmizi . Beliau adalah seorang Ulama’ Besar Syafi’iyah di Iraq
sebelum masanya Ibnu Surej. Beliau mengarang sebuah kitab dengan judul
“Kitab Ikhtilaf Ahlis Salat” dalam usuluddin.
- Al-Imam Junaid Al-Baghdadiy (wafat 298H)
Nama
lengkap beliau, ‘Abdul Qasim Junaid bin Muhammad bin Junaid
Al-Baghdadi. Beliau adalah seorang ahli tasawuf besar yang sampai
sekarang masyhur namanya dalam dunia Islam. Beliau belajar ilmu fiqih
daripada Abu Thur Al-Kalibi (murid Imam Syafi’i ) dan dalam usia 20
tahun sudah berfatwa.
Kurun Ke-empat Hijriyah
- al-Imam at-Thabari (wafat 305H)
- Al-Imam 'Abdullah bin Muhammad Ziyad An-Nisaburi (wafat 324H)
- Al-Imam Ibnu Qasi (wafat 335H)
- Al-Imam As-Su'luki (wafat 337H)
- Al-Imam Al-Asy'ari (wafat 324H)
- Al-Imam Abu Ishaq Al-Marwazi (wafat 340H)
- Al-Imam Ibnu Abi Hurairah (wafat 345H)
- Al-Imam Al-Mus'udi (wafat 346H)
- Al-Imam Abu Saib Al-Marwazi (wafat 362H)
- Al-Imam As-Sijistani (wafat 363H)
- Al-Imam Al-Qaffal Al-Kabiir (wafat 365H)
- Al-Imam Ad-Dariki (wafat 375H)
- Al-Imam Ibnu Abi Hatim (wafat 381H)
- Al-Imam Al-Daruqutni (wafat 385H)
- Al-Imam Al-Jurjani (wafat 393H)
Kurun Ke-05 Hijriyah
- Al-Imam Al-Baqilani (wafat 403H)
- Al-Imam Hakim (Hakim al-Naisaburi ) (wafat 405 H)
- Al-Imam As-Sinji (wafat 406H)
- Al-Imam Ibnu Mahamili (wafat 415H)
- Al-Imam Ats-Tsa'labi (wafat 427H)
- Al-Imam Al-Mawardi (wafat 450H)
- Al-Imam Al-Baihaqi (wafat 458H)
- Al-Imam Al-Haramain (460H)
- Al-Imam Al-Qusyairi (465H)
- Al-Imam Asy-Syirazi (wafat 476H)
- Al-Imam Al-'Aziz (wafat 494H)
- Al-Imam At-Thabari (wafat 495H)
Kurun Ke-06 Hijriyah
- Al-Imam Al-Kayahirasi (wafat 504H)
- Al-Imam Al-Ghazali (wafat 505H)
- Al-Imam Al-Baghawi (wafat 510H)
- Al-Imam Syahrastani (wafat 548H)
Kurun Ke-07 Hijriyah
- Al-Imam 'Izzuddin bin 'Abdissalam (wafat 606H)
- Al-Imam Ar-Razi (wafat 606H)
- Al-Imam Ibnu Atsir (wafat 606H)
- Al-Imam Ar-Rafi'i (wafat 623H)
- Al-Imam An-Nawawi (676H)
Kurun Ke-08
- Al-Imam Taqiyuddin Ibnu Daqiqil 'Id (wafat 702H)
- Al-Imam Zamlukani (wafat 727H)
- Al-Imam Ad-Dzahabiy (wafat 748 H)
- Al-Imam Taqiyuddin As-Subki (wafat 756H)
- Al-Imam Tajuddin Subki (wafat 771H)
- Al-Imam Ibnu Katsir (wafat 774H)
- Al-Imam Zarkasyi (wafat 794H)
Kurun Ke-09
- Al-Imam Al-Mahalliy (wafat 835H)
- Al-Imam Ibnu Ruslan (wafat 844H)
- Al-Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaniy (wafat 852H)
Kurun Ke-10
- Al-Imam As-Sayuthi (wafat 911H)
- Al-Imam Qastolani (wafat 923H)
- Al-Imam Zakaria Al-Anshoriy (wafat 926H)
- Al-Imam Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974H)
- Al-Imam Khatib Syarbaini (wafat 977H)
- Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari Asy-Syafi'i (Wafat sekitar 970-990 H)
Kurun Ke-11
Ulama'-ulama' Besar Mazhab Syafi'i yang wafat dalam kurun ke-11 ;
- Al-Imam Ar-Ramli (wafat 1004H)
- Al-Imam Ar-Raniri (wafat 1068H)
Dan masih banyak lagi.
Kurun Ke-12
- Al-Habib 'Abdullah ibn 'Alwi Al-Haddad (wafat 1132H)
- Ays-Syaikh Sayyid Ja'far Al-Barzanji (Wafat 1184H)
Kurun Ke-13
- Al-Imam Asy-Syarqawi (wafat 1227H)
- Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjariy (wafat 1227H)
- Syekh Asy-Syanwani (wafat 1233H)
- Syeikh Abdus Samad Al-Falembani (Ulama Indonesia)
- Syeikh Daud 'Abdullah Al-Fatoni (wafat 1265H)
- Al-Imam Al-Bajuri (wafat 1276H)
Kurun ke-14
- Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (wafat 1304H)
- Syeikh Nawawi al-Bantaniy (Al-Imam Nawawi ke-2) (Wafat 1314H)
- Syekh Muhammad Khalil al-Maduriy
- Syeikh Wan Ali Kutan (wafat 1331H)
- Sayyid Utsman Betawi (wafat 1333H)
- Syeikh Ahmad Khatib (wafat 1334H)
- Syeikh Mohd Sa'ad (wafat 1339H)
- Syeikh Yusuf Bin Isma'il Al-Nabhani (wafat 1350H)
- Hasan Ma'sum (wafat 1355H)
- Syeikh Mohammad Jamil Jaho (wafat 1360H)
- Syeikh Hasyim Asy'ari (wafat 1367H)
- Syeikh 'Abdul Wahid (wafat 1369)
- H. Mustafa Husein (wafat 1370H)
- Syeikh 'Abbas Qadi (wafat 1370H)
- Syeikh Muda Wali (wafat 1380H)
- Maulana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli
- Abu Bakar Syata (wafat ?H)
- Syekh Ihsan Dahlan Al-Jampesiy
Kurun ke-15
- K.H. Sirajuddin 'Abbas (wafat 1400H)
- Syeikh Muhammad Idris Al-Marbawi (Wafat 1409H)
- Mufti Haji Ismail Omar (wafat 1413H)
- Dato' Kiyai Shamsuddin (wafat 1418H)
- K.H.M. Syafi'i Hadzami (wafat 1427H)
- Syeikh Muhammad Fuad Al-Maliki
Dan masih banyak lagi yang mungkin terlewatkan untuk kami sebutkan, pada kurun-kurun terakhir kebanyakan hanya disebutkan ulama besar yang berasal dari Nusantara, belum lagi di wilayah lainnya. Namun tidak ketinggalan pula, kami akan sebutkan ulama dan habaib dari madzhab 4 yang kami ketahui. Diantaranya adalah sebagai berikut yang kami tidak bisa sebutkan satu-persatu, ini hanya sebagian kecil saja
- Imam Ahmad bin Hanbal, Pengasas Mazhab Hanbali (wafat 241H)
- Sayyid Ahmad Al-Badawi (wafat 675H)
- Ibnu 'Athoillah Al-Sakandari Al-Maliki Asy-Syazili (709H)
- Imam Sya'rani , Pemadu Ilmu Kasbi dan Laduni (wafat 973H)
- Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi Al-Hanafi, (wafat 1345H)
- Syeikh 'Abdul Fattah Abu Ghuddah (wafat 1417H)
- Syeikh Mutawalli Sya'rawi (wafat 1419H)
- Sayyid Muhammad ibn 'Alawi Al-Maliki
- Syekh 'Umar Mukhtar
- Dan lain sebagainya (Habaib dan Ulama-ulama lain)
Mereka kaum anti madzhab mengatakan bermadzhab adalah bentuk Ashobiyah, jika demikian maka tidak boleh tidak, sangat banyak Imam dan Ulama besar kaum Muslimin yang telah dituduh ashobiyah oleh mereka karena bermadzhab. Semoga kita tidak sampai ikut-ikutan mereka yang anti madzhab, lebih selamat ikuti amalan ulama'-ulama' yang mana mereka walaupun sudah 'alim tetap bermadzhab
Disarikan dari buku "SEJARAH DAN KEAGUNGAN MADZHAB SYAFI'I (Oleh KH. Sirajuddin Abbas)" dan dari berbagai sumber.
