Menjelang 2014

blogger templates
Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 diyakini akan memiliki nuansa yang berbeda dengan pileg-pileg sebelumnya. Penyebabnya adalah mewabahnya fenomena “kader jenggot” yang dicalonkan menjadi anggota legislatif oleh partai-partai politik.

Istilah “kader jenggot” sendiri merujuk kepada artis yang secara “dadakan” menjadi kader suatu partai dan dicalonkan oleh suatu partai politik. Tujuannya adalah memanfaatkan popularitas sang artis demi mendulang suara sebanyak-banyaknya.

Menurut Wakil Ketua DPR RI, Pramono Anung, mewabahnya fenomena “kader jenggot” dalam Pileg 2014 tak lepas dari sistem suara terbanyak yang diterapkan pada Pemilu 2014. Sistem suara terbanyak, menurut Pramono, mengakibatkan para caleg tidak hanya bersaing antar partai, tetapi juga antar individu dalam satu partai. Agar memenangkan persainga, maka digunakanlah segala cara, termasuk menempatkan “kader jenggot”. (Vivanews.com)

Sejatinya tak ada yang salah dengan keberadaan “kader jenggot”. Tak ada etika, norma dan hukum, terlebih politik yang dilanggar oleh keberadaan “kader jenggot” sebagai calon legislatif.

Namun keberadaan “kader jenggot” juga harus dilihat sebagai pengabaian partai politik terhadap kader-kader terbaiknya. Sikap opportunis dan pragmatis lebih dikedepankan oleh partai politik demi mendulang suara, meski itu harus mengorbankan kader-kader terbaiknya.

Jika sikap prgmatisme telah dikedepankan, maka ada dua kelompok yang akan diuntungkan. Satu, kelompok yang mampu membayar lebih sebagai transaksi politiknya. Dan kedua, kelompok yang telah mempunyai basis massa atau lebih dikenal dengan “vote getter”. Para “kader jenggot” -untuk hal ini, masuk ke dalam kategori kelompok yang kedua.

Juga, keberadaan “kader jenggot” juga harus dicermati sebagai kegagalan kaderisasi dalam tubuh suatu partai politik. Partai gagal mendidik kader yang berkualitas dan juga populis sebagai pendulang suara. Sehingga “kader jenggot”-pun dibutuhkan -karena populis- sebagai alat pendulang suara dengan mengabaikan faktor kualitas.

Selain mengabaikan faktor kualitas, partai dengan “kader jenggot”-nya acapkali juga mengabaikan soal kepribadian artis yang berlawanan dengan nilai yang dikandung oleh partai yang mencalonkannya.

Sebagai contoh ialah PPP dengan Angel Lelga-nya. Sungguh miris menyaksikan partai yang nota bene ber-ideologi Islam dan mengandung nilai-nilai Islami harus mencalonkan seorang Angel Lelga, seseorang -yang secara kepribadian- amat bertolak belakang dengan ideologi dan nilai yang diusung oleh PPP.

Jika telah demikian, masihkah anda optimis dan memilih para “kader jenggot” sebagai individu yang mewakili hak-hak anda di gedung parlemen? Tanpa mengecilkan artis-artis yang memang memiliki kualitas dan kompeten di bidangnya, ataukah anda justru pesimis?

Gitu aja koq repot!

Ditulis sebagai tanggapan atas mewabahnya caleg yang berasal dari kalangan artis.