Debat Khilafiah : Kiai Kampung Lawan Jama’ah Usroh Masalah Tahlilan
PEMUDA NU
Kisah ini menimpa keluarga tokoh NU yang meningggal dunia. Namun
diantara keluarganya, yaitu keponakannya adalah seorang terpelajar di
bandung. Maklum, sejak kecil anak tersebut sekolahnnya selalu di sekolah
umum dan belum mengeyam pendidikan madrasah apalagi pesantren. Ketika
melanjutkan ke universitas dia bergabung dengan komunitas kampus
mengikuti usrah di masjid kampus, bahkan sempat menjadi aktivis salah
satu partai islam.
Dia mendapat pengetahuan agama dari
usrah-usrah di kampus. Entah mengapa dia terlalu PD (percaya diri) dan
tampil menyakinkan. Seolah-olah dia telah menguasai banyak hal tentang
masalah keagamaan. Hal ini terlihat dengan sikapnya dan bicaranya di
hadapan orang kampung dan keluarganya. Dia dengan yakin dan PD sering
membidah kan dan menyesatkan orang kampung, bahkan pada keluarganya yang
sedang mendoakan si mayit.
Menurutnya mendoakan kepada orang
mati itu tidak akan sampai dan hukumnya bidah, haram, dan masuk neraka.
Mendengar ucapan itu orang-orang kampungdan keluarganya menjadi masygul.
Sambil berbisik-bisik orang kampung mengatakan: “anak ini terpelajar
tetepi kok kurang ajar ya!”. “Sudah diam saja tak usah ditanggapi,” ujar
orang kampung yang lain.
“Ayo kita teruskan baca tahlil, ndak usah didengar,” sahut yang lain.
Setelah orang kampung selesai membaca tahlil dan doa anak muda aktivis
kampus itu kemudian sambil berkata: “apa yang dikerjakan bapak-bapak
sekalian itu sia-sia, bahkan berdosa kerena mengamalkan bidah”.
Kemudian kiai yang memimpin tahlil dengan tenang menanggapi ucapan anak
muda tadi dan berkata ; “hai mas, apa yang kami amalkan ini bukanlah
tanpa dasar. Kemudian beliau menerangkan sebuah hadits. Dalam hadits itu
dijelaskan bahwa pada suatu hari Nabi berjalan-jalan dengan para
Sahabat, tiba-tiba Nabi berhenti di sebuah maqbarah (komplek kuburan),
Nabi menangis. Kemudian mendoakan dan menanjapkan pelepah kurma di atas
kuburan tersebut.” Kiai melanjutka perkataannya; “Nah, kalau pelepah
kurma saja bisa mendoakan, apalagi kita sebagai manusia,” ujar kiai.
Selain itu, kata kiai, doa yang dibaca ketika sholat jenazah (allahumma
firlahu marhamhu wa’fuanhu) adalah doa yang isinya mendoakan yang mati
agar mendapatkan ampunan. Jadi kalau ngga sampai tidak mungkin
Rasulullah mengajarkan doa itu.
Anak muda itu terlihat kaget.
Kemudian dengan rasa bersalah menjawab “Jadi ada dalilnya toh, dan nabi
juga melakukan serta memerintahkan membaca doa dalam sholat jenazah ?,”
Tanya anak muda itu. “Iya, kenyataannya seperti itu,” jawab kiai.
Kemudian kiai itu menerangkan ; “Jadi apa yang kami lakukan ada
dasarnya, makanya jangan asal tuduh bidah,” tegas kiai.
“Tetapi
ustad saya berkali-kali menerangkan bahwa mendoakan orang mati
sebagaimana yang dilakukan orang kampung itu sesat dan masuk neraka
serta tidak ada hadits, tetapi kenyataannya ada haditsnya?,” Tanya anak
muda itu. Kemudian kiai menjawab ; “Ya saya ngga ngerti ustad adik itu
benar-benar mengerti agam atau politisi yang menyamar menjadi ustad,
makanya kalau belajar agama belajarlah pada yang mengerti jangan belajar
agama pada politisi,” nasihat kiai pada anak muda itu. Anak itu terdiam
dan akhirnya jama’ah bubar.